Buku 7 keajaiban rezeki karya Ippho Santosa mengajak kita
untuk merangkai hidup yang kita jalani ke dalam bingkai yang “semestinya”,
bahwa dalam hidup ini manusia membutuhkan rezeki maka semestinya manusia menata
dirinya untuk memperoleh rezeki. Dalam buku tersebut ippho memandu kita untuk
bisa memposisikan diri sehingga rezeki yang memang telah digariskan bisa kita
peroleh dalam bentuk takdir yang indah, saya menyebut demikian karena segala
upaya yang kita lakukan pada akhirnya bermuara pada suatu takdir. Dengan
ikhtiar yang baik tersebut maka dengan izin-Nya ikhtiar tersebut akan berujung
pada takdir yang baik. Tidak ada balasan bagi suatu kebaikan melainkan kebaikan
pula.
Rezeki itu sudah dipastikan, dan selama kita masih hidup
maka pasti kita akan memperolehnya, yang tidak pasti itu (bagi manusia
tentunya, bukan bagi Tuhan) adalah kapan waktunya, berapa jumlahnya, dimana
tempatnya. Dengan trik otak kanan maka ketidakpastian itu bisa diramu menjadi
sebuah dinamika yang menarik layaknya petak umpet, singkatnya demikian, disaat
apa yang kita inginkan belum ada maka kita mengawali dengan memimpikannya, kemudian
setelah itu kita berdoa memohon kepada Penguasa Takdir, selanjutnya kita
berikhtiar lahir dan batin tanpa kenal menyerah. Dengan rangkaian sederhana ini maka
“ketidakpastian” dapat dihadapi dengan percaya diri. Bahkan apabila hal ini
mampu dilaksanakan secara berkelanjutan maka meskipun impian kita belum
terwujud maka sesungguhnya kita tetap akan memperoleh manfaat yang besar, yakni
terbentuknya karakter sebagai seorang pejuang.
Apapun yang kita inginkan baik untuk urusan dunia maupun untuk urusan
akhirat sesungguhnya semuanya membutuhkan perjuangan.
Semua tips yang disampaikan Ippho menurut saya sangat
menarik dan baik untuk dicoba, satu hal yang ingin saya cermati yakni mengenai
impian. Saat ini kita hidup di zaman dimana faham materialis berkembang dengan
suburnya, kenyataan ini sedikit banyak mempengaruhi seseorang dalam memimpikan
sesuatu hal. Sebuah impian semestinya dibangun di atas kesadaran yang mendalam,
bukan atas dasar pemikiran yang dangkal karena impian sesungguhnya adalah suatu
hal yang akan menghabiskan banyak waktu kita bahkan jiwa raga kita, karenanya
sangatlah naïf apabila apa yang menjadi
impian kita di dalam hidup ini hanya sebatas materi. Menurut saya, saat ini ketika seseorang
ditanya mengenai impiannya maka kebanyakan orang akan menyampaikan berbagai
macam impian yang terbatas secara materi, seperti misalnya memimpikan sebuah
usaha dengan omset milyaran, mobil mewah, rumah mewah, jalan jalan keliling
dunia dan lain sebagainya.
Apapun capaian kita dalam hidup jika itu tidak mengantarkan
kita pada kedekatan diri kepada-Nya maka semua itu tidak ada artinya, ini
adalah prinsip yang harus dipegang oleh orang yang beriman. Kebahagiaan itu
tidak bisa diletakkan di luar hati kita, karenanya jika kita mempersyaratkan
kebahagiaan itu atas dasar pencapaian kita pada hal hal yang bersifat materi
maka sesungguhnya kita telah menggadaikan kebahagiaan kita pada tempat yang
salah. Oleh karena itu saya mengajak semua orang yang beriman untuk menata
kembali impiannya.



0 komentar:
Posting Komentar